PENGARUH LOKASI DAN KONDISI PARAMETER FISIKA-KIMIA OSEANOGRAFI UNTUK PRODUKSI RUMPUT LAUT DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN

Muhammad Ramdhan, Taslim Arifin, Irma Shita Arlyza

Abstract


Pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma sp. dipengaruhi oleh faktor oseanografi meliputi parameter fisika, kimia dan biologi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial parameter fisika-kimia oseanografi dan pengaruhnya terhadap produksi rumput laut Eucheuma cottonii. Distribusi spasial parameter fisika-kimia perairan dianalisis menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA).Hubungan antara parameter fisika-kimia dengan produksi rumput laut dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Analisis distribusi spasial parameter fisika-kimia menghasilkan 3 kelompok utama, dimana pengaruh stasiun sangat dominan dalam pengelompokan tersebut. Parameter fisika-kimia memberikan karakteristik yang berbeda antara kedua lokasi pengamatan (Kecamatan Sanrobone dan Mangarabombang). Adapun produksi rumput laut di Kecamatan Sanrobone dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 98,6%.): Produksi = - 2343 + 331 suhu - 48.6 salinitas – 41,6 DO - 708 pH – 3,33 TSS + 48,5 BOT + 458 kecepatan. arus – 8,6 kecerahan + 46,5 kedalaman - 159 nitrogen - 615 fosfat + 1,625 silikat. Sedangkan untuk produksi rumput laut di Kecamatan Mangarabombang dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 76,9%.): Produksi = - 385 + 448 suhu - 499 salinitas + 940 DO + 220 pH – 12.4 TSS + 12.2 BOT + 5.997 kecepatan arus - 311 kecerahan + 60 kedalaman - 726 nitrogen - 106 fosfat - 8,577 silikat.


Keywords


Fisika-kimia oseanografi, distribusi spasial, rumput laut, PCA, regresi linear berganda, Takalar.

Full Text:

PDF

References


Afrianto, E & Liviawati, E. (1989). Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Bharanata Pustaka Desa, Jakarta, 58 hlm.

Aslan, L. M. (1998). Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.97 hlm.

Apriyana, D. (2006). Studi Hubungan Karakteristik Habitat Terhadap Kelayakan Pertumbuhan dan Kandungan Karagenan Alga Eucheuma spinosum di Perairan Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep.Tesis (tidak dipublikasikan). Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor, 151 hlm.

Barsanti, L & Gualtiari, P. (2006). Algae : Anatomy, Biochemistry, and Biotechnology. CRC Press Taylor & Francis Group 6000 Broken Sound Parkway NW, Suite 300 Boca Raton, FL 33487-2742. 301 pp.

Bengen, D. G. (2000). Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. PKSPL-FPIK Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Boyd, C. E., Wood, C. W., Chaney, P. L. & Queiroz, J . F. (2010). Role of Aquaculture Pond Sediments in Sequestration of Annual Global Carbon Emissions. Environmental Pollution 158 ; 2537- 2540. Elsevier.

BPS.(2016). Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2016, Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Dawes, C. J. (1981). Marine Botany.John Wiley Dawson University of South Florida New York.268 pp.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan. (2011). Buku Saku Statistik Perikanan Budidaya.

Hadiwigeno, S. (1990). Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perikanan, Ditjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 48 hlm.

Hidayat, A. (1994). Budidaya Rumput Laut. Usaha Nasional.Surabaya, 96p.

Hui, G., Zhongmin S., Delin, D. (2014). Effect of Temperature, Irradiance on the Growth of the Green Algae Caulerpa lentillifera (Bryopsidophyceae, Chlorophyta). Chinese Journal of Applied Phycology.DOI 10.1007/s10811-014-0358-7. 7 hal (http://link.springer.com/article/10. 1007%2Fs10811-014-0358-7).

Hurtado, A. Q., Critchley, A. T., Trespoey, A. & Bleicher-Lhonneur, G. (2008). Growth and Carrageenan Quality of Kappaphycus Striatum var. Sacol Grown at Different Stocking Densities, Duration of Culture and Depth. J. Appl Phycol 20:551–555 – DOI: 10.1007/s10811-008-9339-z.

Ilahude, A. G. & Gordon, A. L. (1996). Thermocline Stratification within the Indonesian Seas. J.Geophys. Res., 101(C5): 12.401–12.420.

Kamlasi. (2008). Kajian Ekologis dan Biologi untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut K.alvarezii di kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang NTT.Tesis. Institut Pertanian Bogor, 80 hlm.

Jones, A. B., Preston, N. P. & Dennison, W. C. (2003). The Efficiency and Condition of Oysters and Macroalgal Used as Biological Filters of Shrimp Pond Effluent. Aquaculture 33 : 1 – 19.

Kadi, A.W. &Atmadja. (1988). Rumput Laut (Algae), Jenis Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca Panen.Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI.Jakarta, 101 pp.

Khan, S. I. &Satam, S. B. (2003). Seaweed Mariculture.Scope and Potential in India. Aquaculture Asia, 8 (4): 26-29.

Legendre, L. & Legendre, P. (1983). Numerical Ecology.Developments in Environmental Modelling, 3. Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, 419 pp.

Ludwig, J. A. & Reynold, J. F. (1988), Statistical Ecology. A Primer on Methods and Computing. John Wiley & Sons, Inc, New York, 337pp.

Luning, K. (1990). Seaweed, Their Environment, Biogeoraphy, and Ecophysiology. A Wiley Interscience Publication. USA. 527 pp.

Moore, D. S. & McCabe’s, G. (2009). Minitab Manual to Introduction to the Practice of Statistics, Fourth Edition.University of Toronto.115 pp.

Mubarak, H. & Wahyuni, I. (1981). Percobaan Budidaya Rumput Laut di Perairan Lorok, Pacitan dan Kemungkinan Pengembangannya. Bulletin penelitian perikanan, I (2) : 157-166.

Ngangi, E. L. A., Jusuf. & Kusen, J. D. (1998). Faktor Lingkungan Budidaya Rumput Laut di Desa Serey Kecamatan Likupang Minahasa. Laporan Penelitian Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi. Manado.

Parenrengi, A., Rachmansyah. & Suryati, E. (2010). Budidaya Rumput Laut Penghasil Karaginan (Karaginofit). Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros, pp.54.

Pillay, T. V. R. (1992). Aquaculture and the Environment.John Wiley and Sons, Inc., New York, NY.189 pp.

Pong-Masak, P. R., Asaad, A. I. J., Hasnawi., Pirzan, A. M. & Lanuru, M. (2010). Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Gusung Batua, Pulau Badi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. J. Ris. Akuakultur Vo. 5 No.2: 299-316.

Rahmadya, A. (2017). Strategi Pengelolaan Perairan Pesisir Berbasis Budidaya Rumput Laut (Eucheuma Cottonii), Studi Kasus Wilayah Perairan Kota Bontang, Kalimantan Timur, Tesis, Sekolah Pasca Sarjana, IPB. Bogor.

Rorrer G. L. & Cheney D. P. (2004). Bioprocess Engineering of Cell and Tissue Cultures for Marine Seaweeds. Aquacul. Eng. 32(1), 11-41.

Selamat M. B., Samawi M. F., Zainuddin., & Arniati, M. (2106). Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh Satelit untuk Evaluasi Pemanfaatan Ruang Budidaya RumputLaut di Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan II Universitas Hasanuddin 2015. Makassar.

Veronika. & Izzati, M. (2009). Kandungan Klorofil, Fikoeritrin dan Karaginan pada Rumput Laut Eucheuma spinosum yang Ditanam pada Kedalaman yang Berbeda. Jurnal Antomi Fisiologi, Vol. 17 (2), 9 pp.

Wantasen, A. Sj. & Tamrin. (2012). Analisis Kelayakan Lokasi Budidaya Rumput Laut di Perairan Teluk Dodinga Kabupaten Halmahera Barat. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, 8(1), pp. 23-17.

Winberg, P. C., Skropeta, D. & Ullrich, A. (2011). Seaweed Cultivation Pilot Trials - Towards Culture Systems and Marketable Products. Shoalhaven Marine & Freshwater Cente. University of Wollongong.35 pp.

Yulianto, K. & Arfah, H. (2003). Pengaruh Pupuk Urea [CO(NH2)2] Terhadap Pertumbuhan Gracilaria Edulis (Gmelin) Silva Suatu Studi in Vitro. UPT Loka Pembangunan Kompetensi SDM Oseanografi LIPI Pulau Pari. Maluku. 8 hlm.

Zatnika, A.& Angkasa, W. I. (1994). Teknologi Budidaya Rumput Laut. Makalah pada Seminar Pekan Akuakultur V Tim Rumput Laut BPPT, Jakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jkn.v13i3.6288


Creative Commons License

Copyright of Jurnal Kelautan Nasional (p-ISSN 1907-767Xe-ISSN 2615-4579)

Pusat Riset Kelautan
Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan

View My Stats

Index by