STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN BUTON SELATAN

Retno Widihastuti, Armen Zulham

Abstract


Potensi perikanan tangkap Kabupaten Buton Selatan cukup besar meliputi jenis ikan pelagis besar dan kecil, serta demersal. Kabupaten Buton Selatan yang menjadi bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 714 (WPP RI 714), secara rata-rata mampu berkontribusi melalui produksi perikanan tangkap dengan jumlah rata-rata 35,452,429kg/tahun. Angka tersebut adalah tidak termasuk pelagis besar tuna dan cakalang (KepMenKP No.50, 2017). Kenyataannya pada tahun 2014 kontribusi Kabupaten Buton Selatan hanya sejumlah 7.308.000 kg/tahun (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan, 2015). Pertimbangan karakteristik inilah, menjadikan Kabupaten Buton Selatan dipilih menjadi lokasi penelitian. Penelitian bertujuan untuk memberikan masukan berupa strategi dalam mengembangkan industri perikanan tangkap di Kabupaten Buton Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2016.Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari informasi yang terkumpul, kemudian dikelompokkan, disusun, dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dalam bentuk statistik sederhana, sedangkan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan daerah dilakukan identifikasi USG (Urgency, Seriousness and Growth), SWOT (StrengthWeakneses Opportunity and Threat), dan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil analisis menunjukan bahwa pemanfaatan potensi perikanan tangkap di Kabupaten Buton Selatan belum optimal, oleh karenanya diperlukan kebijakan yang berbasis pada permasalahan kurangnya sarana dan prasarana perikanan tangkap yang mendukung program pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Adapun implikasi kebijakan yang diperlukan pemerintah meliputi : a) Mempromosikan pemanfaatan sumberdaya perairan kepada investor dengan peluang dibangunnya Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI); b) Memanfaatkan seluruh armada dan alat tangkap untuk memanfaatkan PPI yang akan dibangun;  c) Mempromosikan PSKPT ke investor; serta d) Mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan sarana dan prasarana serta potensi perikanan tangkap. 

Title: Strategy of Capture Fisheries Industry Development In South Buton District

The potential of capture fisheries in South Buton District is quite large, including large and small pelagic fish species, and demersal fish. South Buton District which is part of the Fisheries Management Region of the Republic of Indonesia 714 (WPP RI 714) on average is able to contribute through capture fisheries production with an average number of 35.452,429kg / year. This number is not including the large pelagic tuna and skipjack. In fact, in 2014 production was only 7,308,000 kg / year (South Buton District Marine and Fisheries Data, 2014). Consider this characteristic, making South Buton District was chosen as the research location. The research aims to give input a strategy in developing the capture fisheries industry in South Buton District. The study was conducted in October 2016. Data collected are primary and secondary data. Primary data collection is done by using interview and observation techniques. Data analysis was performed descriptively qualitative and quantitative. Qualitative data were obtained from information collected, then grouped, arranged, and analyzed descriptively qualitatively. Quantitative data were analyzed in the form of simple statistics, while to identify opportunities for regional development USG (Urgency, Seriousness and Growth) identification, SWOT (Strength-Weakneses Opportunity and Threat), and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).The results of the analysis show that the utilization of the potential of capture fisheries in South Buton District is not optimal, therefore a policy that is based on the problem of the lack of capture fisheries facilities and infrastructure that supports the development of the marine and fisheries sector is needed. The policy implications required by the government include: a) Promoting the use of aquatic resources to investors with the opportunity to develop PPIs; b) Utilizing the entire fleet and fishing gear to utilize the Fish Landing Base to be built; c) PromotingPSKPT to investors; and d) Prepare Human Resources (HR) in the management of facilities and infrastructure as well as the potential of capture fisheries. 


Keywords


potensi; perikanan tangkap; strategi pengembangan; pemanfaatan; sarana prasarana; Buton Selatan

Full Text:

PDF

References


Anantayu, S. (2011). Kelembagaan Petani: Peran dan Strategi Pengembangan Kapasitasnya. SEPA, Vol 7(2), 102-109.Retrieved from http://www. academia.edu/15289227/jurnal.

Carles, Wi. S. Eko., H. Sugeng., Wisudo., A. Deni., & Soeboer. (2014). Karakteristik Perikanan Tangkap di Perairan Kabupaten Simeuleu. Jurnal Marine Fisheries. Vol. 5. (1), 91-99. doi: 10.29244/ jmf.5.1

David, F .(2011). Strategic Management, 14th Edition. New Jersey, ID: Prentice Hall.rta. Eaton, J.W. (1986). Petunjuk bagi Perumusan Teori Pembangunan dalam Pembangunan Lembaga dan Pembangunan Nasional: dari Konsep ke Aplikasi. Editor J.W. Eaton. Jakarta, ID: UI Press.

Hanafie, R. (2010). Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta, ID : CV.Andi Offset.

Heryansyah, M.S. & S. Syahnur. (2013). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Nelayan di Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Ilmu Ekonomi, Vol 1. (2), Retrieved from http:// docplayer.info/3226229-jurnal.

Kepner, C.H. & B.T. Benjamin. (1981). Manager yang Rasional. Edisi Terjemahan. Jakarta. ID: Erlangga.

Khudori. (2012) dalam Yusuf J., Rukmana D., Ali, S.A., Indar Y.N. (2014). Studi Kelembagaan Dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Telur Ikan Terbang (Kasus Desa Pa’Lalakang Kabupaten Takalar). Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan, Vol 24 (3), 19-28:doi:http://dx.doi.org/10.35911/ torani.v2413.234.

Kotler, P. & K.L. Keller. (2012). Manajemen Pemasaran. Edisi 12. Jakarta, ID: Erlangga. Kusnadi. (2000). Nelayan: Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Humaniora Utama. Bandung, ID: Press.

McCluskey, S. & R.L. Lewison. (2008). Quantifying Effort: A Synthesis of Current Methods and Their Applications. Fish and Fisheries Journal 2008, 9: 188-200. Retrieved from http://bycatch.nicholas. duke.edu/publicationsandreports/McClusky2008. pdf. Meleong,

Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung, ID: Remaja Rosdakarya.

Mulyadi. (2005). Ekonomi Kelautan. Jakarta, ID: Rajagarfindo Perkada.

Nicholson, W.(2002). Microeconomy Theory, Jakarta: ID: Erlangga. Nugroho, B. (2010). Pembangunan Kelembagaan Pinjaman Dana Bergulir Hutan Rakyat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, Vol. 16(3): 118-125. Retrieved from http://journal.ipb.ac.id/index.php/ jmht/article.

Rangkuti, F. (2002). Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21. Jakarta, ID: Gramedia Pustaka Utama.

Sugiarto, T. Herlambang, Brastoro, R. Sudjana & S. Kelana. (2007). Ekonomi Mikro. Jakarta, ID: Gramedia Pustaka.

Sugiyono (2011). Metode Penelitian Kombinasi. Bandung, ID:

Alfabeta. Triarso, I.( 2012). Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Pantura, Jawa Tengah. Jurnal Saintek Perikanan Vol. 8. No.1: 65-73. doi: 10.15578/marina.v4i2.7389.

Widodo, J. & Suadi. (2006). Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Yogyakarta, ID: Gadjah Mada University Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jksekp.v9i2.7475

Indexed by:

---------------------------------------------------------------------------------------

Diterbitkan Oleh:

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
bekerjasama dengan
Indonesian Marine and Fisheries Socio-Economics Research Network