KARAKTERISTIK POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal 1775) DI PERAIRAN ASAHAN DAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA

Andina Ramadhani Putri Pane, Ali Suman

Abstract



Peningkatan jumlah ekspor kepiting (Scylla serrata Forskal, 1775) di wilayah perairan Asahan memacu peningkatan penangkapan yang dapat berpengaruh terhadap populasi dan kelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik populasi dan tingkat pemanfaatan kepiting bakau di perairan Asahan dan sekitarnya. Pengambilan sampel dilakukan setiap bulan dari Januari sampai dengan Nopember 2016 di tempat pendaratan kepiting oleh enumerator. Data dianalisa dengan metode Electronic LEngth Frequency Analisys-I (ELEFAN-I) dari FAO-ICLARM Stock Assessment Tools II (FiSAT II). Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan kepiting bakau bersifat allometrik negatif pada kisaran lebar karapas antara 85 - 175 mm dan bobot tubuh 127 – 1.152,5 gram. Rata-rata ukuran lebar karapas tertangkap dengan jaring dan bubu adalah 118,6 mm dan ukuran matang gonad pertama kali adalah 120,6 mm. Laju pertumbuhan (K) 1,38 per tahun dan lebar karapas maksimum (CW) sebesar 201 mm. Laju kematian total (Z) sebesar 3,59 per tahun, laju kematian karena penangkapan (F) dan laju kematian alami (M) masing-masing 2,27 per tahun dan 1,32 per tahun. Laju pemanfaatan (E) kepiting bakau di perairan Asahan adalah 0,63 per tahun atau sudah melebihi nilai optimum penangkapan. Agar sumber daya kepiting terjamin kelestariannya, maka harus dilakukan pengurangan upaya penangkapan sekitar 26 %.

Increase in the volume of giant mud crab exports (Scylla serrata Forskal, 1775) in the Asahan waters stimulate the increasing catches that affect population and sustainability. This study aims to determine the population characteristics and the exploitation level of giant mud crab in Asahan and adjacent waters. Monthly sampling was done from January to November 2016 at crab landing sites by enumerator. The data were analyzed using Electronic Length Frequency Analysys-I (ELEFAN-I) method available in FAO-ICLARM Stock Assessment Tools II (FiSAT II) program. The results showed that the growth pattern of giant mud crab was negative allometric with carapace width between 85 - 175 mm and individual body weight 127 - 1,152.5 grams. The average carapace’s width caught by net and trap was 118.6 mm and the size of gonad first maturity was 120.6 mm. Growth rate (K) 1.38 per year and maximum carapace width (CW) of 201 mm. Total mortality rate (Z) of 3.59 per year, mortality rate due to fishing (F) and natural mortality rate (M) was 2.27 per year and 1.32 per year respectively. The rate of exploitation (E) of mangrove crab in Asahan waters was 0.63 or has exceeded the optimum value. For the sustainability of crab resource a reduction of 26% in fishing effort is suggested.


Keywords


Karakteristik; Populasi; tingkat pemanfaatan; Scylla serrate; Asahan; Sumatera Utara

Full Text:

PDF

References


Alamsyah, R., & Megawati. (2017). Hubungan lebar karapas dan berat kepiting bakau yang tertangkap di lingkungan pesisir Sinjai Timur. Disampaikan pada Simposisum Krustasea. KKP-WWF-IPB.

Asmara, H., Riany, E., & Susanto, A. (2011). Analisa beberapa aspek reproduksi kepiting bakau (Scylla serrata) di perairan Segara Anakan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Jurnal Metmatika, Sains dan Teknologi, 12 (1), 30-36.

Ball, D,V., & Rao, K. V. (1984). Marine fisheries. New Delhi/ : Tata Mc. Graw-Hill Publishing Company Limited. 5–24 .

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika. (2016). Data suhu harian perairan Selat Malaka 2016. BMKG Stasiun Belawan.

Balai Penelitian Perikanan Laut. (2011). Penelitian dan pengusahaan sumber daya udang penaeid dan krustasea lainnya di WPP Selat Makasar, Laut Flores dan Teluk Bone. Laporan Akhir. Balai Penelitian Perikanan Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan.

Cholik, F. (1999). Review of mud crab culture research in Indonesia. Proceeding of Mud Crab Aquaculture and Biology. Australian Centre for International Agricultural Research, (ACIAR), Canberra, (78),14-20.

Cholik, F. (2005). Review of mud crab culture research in Indonesia, Central Research Institute for Fisheries, PO Box 6650 Slipi, Jakarta, Indonesia, 310CRA.

Cristensen, S, M., Macintosh, D. J., & Phuong, N., T. (2004). Pond production of the giant mud crabs Scylla paramamosain (Estampador) and S. olivacea (Herbst) in the Mekong Delta, Vietnam, using two different supplementary diets. Aqua. Res., 35, 1013–1024.

Edrus, I, N., & Syam, A.R. (2004). Analisis hasil tangkapan rakang dan bubu pada percobaan penangkapan kepiting di perairan mangrove Maluku. J.Lit. Perikan. Ind. 10 (4), 77 – 86. DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jppi.10.4.2004.77-86.

Effendie, M, I. (2002). Biologi Perikanan (p. 136) Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

Fauzi, M., Prasetyo, A. P., Hargiyatno, T. I., Satria, F., & Utama, A. A. (2013). Hubungan panjang-berat dan faktor kondisi lobster batu (Panulirus penicillatus) di perairan Selatan Gunung Kidul dan Pacitan. Bawal, 5 (2), 97-102. DOI: http://dx.doi.org/10.15578/bawal.5.2.2013.97-102.

Gayanilo, F. C. Jr, Sparre, P., & Pauly, D. (1993). The FISAT user’s guide. FAO Computerized Information Series Fisheries. ICLARM – DIFMAR.

Gunarto., Daud, R., & Usman. (1999). Kecenderungan penurunan populasi kepiting bakau di perairan muara Sungai Cenrara, Sulawesi Selatan ditinjau dari analisis parameter sumberdaya. Jurnal Penelitian Perikanan Pantai. 5(3), 30 – 37.

Hill, B. J. (1975). Abundance, breeding and growth of the crab Scylla serrata in two South African estuaries. Marine Biology. 32, 119–126.

Karim, M, Y. (2008). Pengaruh salinitas terhadap metabolisme kepiting bakau (Scylla olivacea). Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci). X (1), 37-44. https://doi.org/10.22146/jfs.8926.

Kathirvel, M., Kulasekhar, S., & Balasubramanium, C. P. (2004). Mud crab culture in India. Central Institute of Brackish water Aquaculture (ICAR), 17, 60.

Keenan, C.P., Davie, P.J.F., & Mann, D.L. (1998). A revision of the genus Scylla De HAAN, 1983 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Portunidae). The Raffles Bulletin of Zoology, 46 (1), 217-245.

King, M. (1995). Fisheries biology, assessment and management (p. 341). Fishing News Book. United Kingdom.

La Sara. (2010). Study on the size structure and population parameters of mud crab Scylla serrata in Lawele Bay, Southeast Sulawesi, Indonesia. Journal of Coastal Development, 13(2), 133-147.

Le Vay, L. (1998). Ecology and stock assessment of Scylla spp. In: Proceedings of the International Forum on the Culture of Portunid Crabs, Boracay, Philippines, December 1–4, 1998.

Marichamy, R., & Rajapackian, S. (2001). The aquaculture of Scylla species in India. Asian Fish. Sci., 14, 231–238.

Mohanty, S. K., Mohapatra, A., Mohanty, R. K., Bhatta, R. K., & Pattnaik, A. K. (2006). Occurrence and biological outlines of two species of Scylla (De Haan) in Chilika lagoon, India. Ind. J. Fish., 53, 191-202.

Monoarfa, S., Syamsuddin., & Hamzah, S.N. (2013). Analisis parameter dinamika populasi kepiting bakau (Scylla serrata) di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Universitas Negeri Gorontalo, 1(1) 2013, 31-36.

Onrizal. (2010). Perubahan Tutupan Hutan Mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara Periode 1977-2006. Jurnal Biologi Indonesia, 6(2), 163-172. Diakses melalui https://media.neliti.com/media/publications/76865-ID-perubahan-tutupan-hutan-mangrove-di-pant.pdf tanggal 5 Maret 2017 pukul 09.29 Wib.

Pauly, D. (1980). A Selection of a simpel methods for the assessment of the tropical fish stock. FAO Fish. Circ. FIRM/ C 729. Roma. 54 pp.

Pauly, D., Ingles, J., & Neal, R. (1984). Application to shrimp stocks of objective methods for the estimation of growth, mortality and recruitment related parameters from length frequency data (ELEFAN I and II). In : Penaeid shrimp - their biology and management. Fishing News Book Limited. Farnham-Surrey-England, 220-234.

Pusat Karantina dan Keamanan Hayati Ikan. (2016). Pedoman Pemeriksaan/Idetifikasi Jenis Ikan Dilarang Terbatas (Kepiting Bakau/ Scylla spp.). Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Realino, B., Teja, A, W., Zahrudin., & Napitu, A, M. (2006). Pola Spasial dan Temporal Kesuburan Peariran Permukaan Laut Indonesia. Balai Riset dan Observasi Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan. Diakses melalui http://www.bpol.litbang.kkp.go.id/old/pdf/108867SUDAH%20%20Paper%20Pola%20 Kesuburan%20 Perairan% 20Lin.pdf , tanggal 26 Januari 2018 pukul 11 : 14 Wib.

Ruscoe, I. M., Shelley, C. C., & Williams, G. R. (2004). The combined effects of temperature and salinity on growth and survival of juvenile giant mud crabs (Scylla serrata Forskal). Aquaculture, 238, 239-247.

Saputra, S. W., Soedarsono,P., & Sulistyawati,G.A. (2009). Beberapa Aspek Biologi Ikan Kuniran (Upeneus spp.) di Perairan Demak. Jurnal Saintek Perikanan. 5(1), 1-6.

Siahanenia, L. (2009). Struktur morfologis kepiting bakau (Scylla paramamosain). Jurnal Triton, 5 (1), 11 – 21.

Simanjuntak, M. (2009). Hubungan faktor lingkungan kimia, fisika terhadap distribusipPlankton di perairan Belitung Timur, Bangka Belitung. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences). XI (1), 31-45. DOI: https://doi.org/10.22146/jfs.2970.

Sparre, P., & Venema, S. (1999). Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis, alih bahasa : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan). Buku 1 : Manual (Terjemahan). Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 438 p.

Suman, A. (2004). Pola pemanfaatan sumber daya udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) di perairan Cilacap dan sekitarnya. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana, IPB, Bogor.

Syam, A. R.,Suwarso., & Purnamaningtyas, S.E. (2011). Laju ekploitasi kepiting bakau (Scylla serrata) di Perairan Mangrove Mayangan Subang – Jawa Barat. J. Lit. Perikan. Ind. 17 (3), 201 – 207. DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jppi.17.3.2011.201-207.

Syech, R., & Malik, U. (2013). Menentukan nilai reflektan dan salinitas di Perairan Selat Malaka Menggunakan Data Liputan Citra Satelit FY-1D. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 319-321.

Syech, R ., Junaidi., & Martin, M. (2007). Estimasi distribusi klorofil-a di Perairan Selat Malaka Menggunakan Data Liputan Citra Satelit FY-1D.Diakses http://download.portalgaruda.org/article.php?article=105848&val=5122 pada tanggal 26 Januari 2018 pukul 10:55 Wib.

Wiadnyana, N.N. (2000). Kemelimpahan plankton di perairan Selat Sele, Sorong, Irian Jay a. Majalah Ilmu Kelautan. 17 (V), 19-28.

Widodo, J., & Suadi. (2006). Pengelolaan sumberdaya perikanan laut. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

Wijaya N.I., Yulianda F., Boer M., & Juwana S. (2010). Biologi populasi kepiting bakau (Scylla serrata F.) di Habitat mMagrove Taman Nasional Kutai Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Oseanografi dan Limnologi di Indonesia, (3), 443-461.

Tahmid, M., Fahrudin, A., & Wardiatno, Y. (2015). Kualitas habitat kepiting Bakau (Scylla serrata) pada ekosisistem mangrove Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 7 (2), 535-551.

Yusrudin (2016). Analisis beberapa aspek biologi kepiting bakau (Scylla serrata) di perairan Sukolilo, pantai timur Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Kelautan 2016. Universitas Trunojoyo Madura.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jppi.24.3.2018.165-174


Creative Commons License
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats
p-ISSN 0853-5884
e-ISSN 2502-6542

Find in a library with WorldCatCrossref logoSHERPA/RoMEO Logogoogle scholardoaj