KERAGAMAN GENETIK TIGA GENERASI IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminkii) DALAM PROGRAM DOMESTIKASI

Otong Zenal Arifin, Wahyulia Cahyanti, Anang Hari Kristanto

Abstract


Suatu penelitian untuk melihat keragaman genetik tiga generasi ikan tambakan dalam program domestikasi telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaman genetik generasi tetua/awal (G0), generasi pertama (G1), dan generasi kedua (G2) dalam program domestikasi ikan tambakan. Pengujian keragaman genetik dilakukan dengan metode PCR-RAPD menggunakan tiga primer, yakni OPA-2, OPA-8, dan OPC-2. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan jumlah (7-15) dan ukuran fragmen (200-2.800 bp) yang dihasilkan, dengan frekuensi kemunculan alel berkisar antara 0,00-1,00 dari 31 lokus. Enam fragmen dari OPC-2 (1.400 bp, 1.300 bp, 1.100 bp, 800 bp, 600 bp, 500 bp), lima fragmen dari OPA-2 (1.350 bp, 1.000 bp, 900 bp, 800 bp, 520 bp), dan dua fragmen dari OPA-8 (1.000 bp, 550 bp) merupakan fragmen marka spesifik ikan tambakan pada penelitian ini. Keragaman genetik ikan tambakan antar generasi tergolong rendah, dengan nilai persentase polimorfisme berkisar antara 6,45%-35,48% dan nilai heterozigositas berkisar antara 0,03-0,16. Terjadi penurunan polimorfisme dan heterozigositas dari generasi tetua/awal (G0) ke generasi pertama (G1) dan kembali naik pada generasi kedua (G2). Dalam program domestikasi, nilai efektif induk (Ne) sebaiknya lebih dari 100, dengan nilai laju inbreeding (F) tidak lebih dari 0,005.

A study to examine the genetic diversity of three generations of kissing gourami under a domestication program has been conducted at the Research Institute for Freshwater Aquaculture and Fisheries Extension, Bogor. The purpose of this study was to evaluate the genetic diversity of the elder generation (G0), first generation (G1), and second generation (G2) of kissing gourami under the domestication program. The genetic diversity examination was conducted through a PCR-RAPD method using three primers, namely OPA-2, OPA-8, and OPC-2. The obtained results indicated a difference in the number (7-15) and size of the fragments (200-2.800 bp) with the frequency of allele occurrence ranged from 0.00 to 1.00 from 31 loci. Six fragments from OPC-2 (1,400 bp; 1,300 bp; 1,100 bp; 800 bp; 600 bp; 500 bp), five fragments from OPA-2 (1,350 bp; 1,000 bp; 900 bp; 800 bp; 520 bp), and two fragments from OPA-8 (1,000 bp; 550 bp) were considered as species-specific markers of kissing gourami. The genetic diversity among the generations of the kissing gourami was low, with the percentage of polymorphism ranged from 6.45% to 35.48% and the value of heterozygosity ranged from 0.03 to 0.16. There was a decrease in polymorphism and heterozygosity values from the elder generation (G0) to the first generation (G1) and increased again but on the second generation (G2). In addition, the effective breeding value (Ne) in a domestication program should be more than 100, and the average of inbreeding value (F) is less than 0.005.


Keywords


keragaman genetik; PCR-RAPD; generasi; tambakan; genetic diversity; PCR-RAPD; generation; kissing gourami

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jra.12.4.2017.295-305


Lisensi Creative Commons
Jurnal Riset Akuakultur is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats
E-ISSN 2502-6534