STUDI KETERKAITAN EKOSISTEM LAMUN DAN PERIKANAN SKALA KECIL (Studi Kasus: Desa Malang Rapat dan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau)

Muhammad Nur Arkham, Luky Adrianto, Yusli Wardiatno

Abstract


Ekosistem lamun merupakan salah satu bagian penting sebagai bagian penyusun kesatuan ekosistem pesisir bersama dengan mangrove dan terumbu karang. Secara spesifik, keterkaitan masyarakat sebagai pemanfaat sumberdaya pada ekosistem lamun belum banyak diungkapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keterkaitan sistem sosial-ekologi lamun berdasarkan hasil tangkapan sumberdaya ikan di lokasi penelitian dan mengestimasi besaran manfaat sumberdaya ikan kaitannya dengan jasa ekosistem lamun di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data yang dibutuhkan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapat dari wawancara dengan instrumen kuisioner dan pencatatan hasil tangkapan dan penjualan di pedagang pengepul. Analisis data penelitian ini menggunakan metode analisis diskriptif kualitatif dan net fishing revenue (NFR) yang diperoleh nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan sosial-ekologi dengan keberadaan ekosistem lamun yang dijadikan sebagai tempat penangkapan bagi perikanan skala kecil yang bisa berkontribusi dalam ketahanan pangan dan sebagai mata pencaharian nelayan di desa tersebut. Manfaat yang didapat perikanan skala kecil dari keberadaan ekosistem lamun yaitu kemudahan akses bagi nelayan skala kecil dalam mencari ikan karena lokasinya yang dekat dengan pantai. Secara umum besaran manfaat dari fungsi ekosistem lamun sebagai jasa penyedia terlihat dari pendapatan per hari nelayan skala kecil diatas UMK Kabupaten Bintan yaitu Rp. 93,000,00. Dengan adanya keterkaitan sosial-ekologi lamun tersebut dapat dilakukan pertimbangan pengelolaan pesisir terpadu dengan pendekatan sosial-ekologi lamun di lokasi penelitian.

 

(The Study of Seagrass Ecosystem and Small-Scale Fisheries Linkages (Case Studie: Malang Rapat and Berakit village, Bintan Regency,Riau Islands))

Seagrass ecosystem is one of an important coastal ecosystem’s component along with mangroves and coral reefs. However, the linkage between fishers and seagrass ecosystem, had not been fully explored. The objectives of this research were analyze seagrass social-ecological system linkages based on fish caught and estimating the fisheries resource benefits regarding its ecosystem services at the study sites. Qualitative and quantitative approach based on primary and secondary data were used in this study. Data were collected by interviewed using questionaire and also production and sales records from sellers. Descriptive-qualitative and net fishing revenue (NFR) were used to analyze in this study. Results showed that there was a social and ecological linkage between seagrass and small scale fishers that could contribute to food security and livelihood at those sites. Accessibility of fishing ground on shores was one of the benefit for small scale fisheries. While ecological benefit of seagrass as a provisioning service was indicated by the daily small scale fishers’ revenue that was higher than The Minimum District Wage of Bintan District value which was IDR 93,000. Based on those social-ecological linkages, it is possible to use integrated coastal management with seagrass social-ecological approach in those sites.



Keywords


ekosistem lamun; jasa ekosistem; keterkaitan; perikanan skala kecil; sistem sosialekologi

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jsekp.v10i2.1255

Indexed by:

---------------------------------------------------------------------------------------

Diterbitkan Oleh:

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
bekerjasama dengan
Indonesian Marine and Fisheries Socio-Economics Research Network