PEMELIHARAAN BENIH KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN RASIO PAKAN BERBEDA DALAM SISTEM RESIRKULASI

Wawan Andriyanto, Muhammad Marzuqi, Ni Wayan Widyastuti

Abstract


Kadar protein dan rasio pemberian pakan pelet memberikan pengaruh secara langsung terhadap kualitas media pemeliharaan sehingga perlu dilakukan pengamatan secara detail untuk meminimalisir dampak negatif terhadap pertumbuhan dan sintasannya. Sistem resirkulasi pada prinsipnya adalah memanfaatkan volume air dengan jumlah tertentu dengan menggunakan sistem filter untuk menjaga kondisi air tetap baik dari sisa pakan dan buangan feses ikan. Rasio pakan yang sesuai diharapkan mampu memberikan pertumbuhan ideal dan efisien, serta meminimalisir pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara rasio pemberian pakan dengan kadar protein pakan 40% terhadap degradasi kualitas air . Dalam percobaan ini benih ikan kerapu macan berjumlah masing masing 10 ekor ukuran ± 20 g ditempatkan dalam bak pemeliharaan 100 L, dilengkapi dengan tandon filter 30 L, menggunakan busa sebagai filter dan pompa sebagai penyedot dan blower sebagai pendorong air inlet. Pakan yang diberikan memiliki kadar protein 40% dan perlakuan dalam penelitian ini adalah rasio pemberiannya: (A) pemberian pakan sampai kenyang, (B) diturunkan 15% dari pemberian pakan sampai kenyang, dan (C) diturunkan 30% dari pemberian pakan sampai kenyang. Sehingga rasio pemberian pakan menjadi 3%-1,5% dari biomassa ikan. Waktu yang digunakan untuk observasi ini tidak dibatasi, dengan asumsi dengan kadar protein sebesar 40% belum diketahui seberapa lama model sirkulasi dapat memberikan efek terhadap kualitas air dan kondisi ikan. Pengukuran kualitas air berupa NH3, NO2, DO, pH, total suspended solid, suhu, dan total bakteri dilakukan berkala untuk mengetahui perubahan secara time series. Parameter pertumbuhan diamati setiap minggu dan SR pada awal dan akhir penelitian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pakan dengan protein 40% yang diberikan sampai kenyang dalam media resirkulasi meningkatkan konsentrasi amonia dan nitrit secara signifikan masing masing sampai dengan nilai 13,04 mg/L dan 15,26 mg/L pada perlakuan pemberian sekenyangnya dari kondisi normal diawal penelitian. Selain itu, konsentrasi TSS pada perlakuan sekenyangnya terdeteksi juga tinggi yaitu pada nilai 0,068 mg/L saat ikan sudah tidak mau makan. Pada saat ikan tidak mau makan total bakteri terdeteksi sampai dengan 8,7 x 104 cfu pada perlakuan rasio pemberian sekenyangnya. Konsentrasi oksigen terlarut (DO), suhu, dan pH masing masing berfluktuasi dari 7,0-7,9 mg/L; 27°C-28,9°C dan 7,06-8,59 dan tidak terlalu berbeda dengan kondisi awal. Dalam kondisi sistem resirkulasi seperti ini ikan memanfaatkan energi lebih banyak untuk bertahan hidup daripada untuk tumbuh. Perlakuan dengan rasio pemberian pakan diturunkan 30% dari sekenyangnya lebih efisien dan lebih tahan dalam sistem resirkulasi. Hal ini terlihat dari SR masih 100% dan mampu tumbuh 1,01 ± 1,84 g sedangkan perlakuan lainnya tertekan sampai minus. Hasil lain dari penelitian ini diketahui benih kerapu macan masih bisa bertahan pada kadar amonia sampai dengan 8 mg/L dan nitrit sampai dengan 6,8 mg/L pada sistem resirkulasi.

Keywords


rasio pakan; kerapu macan; resirkulasi; kualitas air

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Creative Commons License
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur by is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats