RESPON UDANG WINDU ( Penaeus monodon Fabr.) TERHADAP ANTIGEN WSSV YANG DIINAKTIVASI DENGAN FORMALDEHID

Melta Rini Fahmi, Martin B. Malole

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon udang windu (Penaeus monodon) terhadap pemberian antigen virus WSSV (White Spot Syndrome Virus) yang diinaktifkan dengan menggunakan formaldehid. Penelitian dibagi menjadi dua tahapan, tahapan pertama yaitu menentukan nilai VID50 (Virus Infective Doze) dengan Rancangan Acak Lengkap, tahap kedua untuk melihat pengaruh pemberian virus WSSV yang diinaktifkan dengan formaldehid terhadap respon imunitas, tingkah laku, dan tingkat sintasan. Pada tahap kedua penelitian dilakukan secara faktorial, faktor yang digunakan adalah konsentrasi virus terdiri atas 2 level serta konsentrasi formaldehid yang terdiri atas 3 level. Masing-masing kombinasi di atas dibuat sebanyak 6 kali, yang digunakan untuk 3 kelompok penelitian yaitu kelompok tanpa diuji tantang, diuji tantang dilakukan setelah 14 hari, dan uji tantang dilakukan setelah 21 hari, dilaksanakan sebanyak 2 kali ulangan. Untuk semua kelompok percobaan respons udang paling sensitif berupa berenang ke permukaan terjadi setelah 1 jam perlakuan diberikan, diikuti oleh penurunan aktivitas dan penurunan nafsu makan. Tingkat kerusakan organ paling tinggi terdapat pada kelompok penelitian ke-2 (uji tantang setelah 14 hari). Untuk kelompok 1 (divaksinasi) kondisi organ hampir normal, hal ini menandakan virus berhasil dilemahkan dan mampu memacu timbulnya antibodi. Tingkat sintasan udang lebih tinggi setelah diuji tantang dibandingkan yang tidak divaksinasi.

The purpose of the research was to determine response of black tiger shrimp (Penaeus monodon) toward formaldehyde inactivated White Spot Syndrome Virus (WSSV).The study was divided into two phases, the first phase was to determine the VID50 (Virus Infective Doze) using Completely Randomize Design, the second phase was to determine of effectiveness of inactive WSSV antigen on the immune response of Penaeus monodon, behavior and pathological respond of Penaeus monodon larvae. VID50 value determined during research was 10-5. The second research was carried using factorial design. The factors involved two levels of virus and three levels of formaldehyde concentration, with two replicates and three groups. The results indicated that for all experiment groups, the most sensitive response of shrimp were swimming to the surface at 1 hours after treatment, following by decreased activity and anorexia. The highest degree of organ damage was found on 2 group experiment (challence test group after 14 days). Organ condition for group 1 (vaccination) almost normal, indicated that virus has been able to stimulate immune response. Degree of survival was increase after challenged test rather than non vaccinated.


Keywords


virus inactive; response of shrimp; formaldehyde; tiger shrimp; pathology

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jra.2.1.2007.77-86


Lisensi Creative Commons
Jurnal Riset Akuakultur is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats
p-ISSN 1907-6754
e-ISSN 2502-6534


Find in a library with WorldCatCrossref logoSHERPA/RoMEO LogoHasil gambar untuk isjdgoogle scholardoaj