Kepemimpinan untuk Mendukung Keberhasilan Implementasi Kebijakan Konservasi Sumber Daya Alam

Tjahjo Tri Hartono

Abstract


Pada tahun 2020, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan mentargetkan 20 juta hektar perairan (laut dan umum daratan) dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan dan dikelola secara efektif. Pencapaian salah satu target pembangunan berkelanjutan di bidang kelautan dan perikanan ini perlu diperhatikan mengingat panjangnya sejarah konflik pengaturan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya di dalam kawasan konservasi. Untuk itu, dialog antar aktor, pihak-pihak yang berpotensi untuk berkonflik, perlu dibangun bersama sejak sebuah wilayah dicadangkan dan selanjutnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan. Efektivitas dialog, yang diindikasikan oleh berbagai hal spesifik di lapangan, membutuhkan sosok-sosok aktor yang memiliki jiwa kepemimpinan. Melalui pemenuhan 5 (lima) faktor kepemimpinan, individu tersebut akan mengupayakan kelompoknya untuk menjadi organisasi pembelajar, yaitu organisasi yang senantiasa mampu melakukan perbaikan (continuous improvement) dalam rangka mereduksi dan mengelola konflik yang mungkin timbul karena diberlakukannya pengaturan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berbasis pada prinsip-prinsip konservasi di suatu wilayah.

Keywords


kepemimpinan; konservasi; sumberdaya kelautan dan perikanan

Full Text:

PDF

References


Abarkeli S. 2001. A Critique of Development and Conservation Policies in Environmentally Sensitive Regions in Brazil. Geoforum 32: 551-565.

Bodin O, BI Crona. 2009. The role of social networks in natural resources governance: What relational patterns make a difference? Gobal Environmental Change 19: 366-374.

Borrini-Feyerabend G. 2000. Co-management of Natural Resources: Organising, Negotiating and Learning by Doing. Yaoundé: IUCN.

Bromley, DW. Editor. 1992. Making the Commons Work. San Francisco: Institute for Contemporary Studies.

Bromley DW & MM Cernea. 1989. The management of common property natural resources: some conceptual and operational fallacies. World Bank Discussion Paper 57. Washington DC.: World Bank.

Clegg S, M. Komberger, T. Pitsis. 2005. Managing and Organizations: An Introduction to Theory and Practice. London: Sage Publications.

Clegg S. 2003. Theorizing “Globalization” Sociologically For Management. Gestão.Org, 1(1):5-26.

Dick-Meinzen R and Mwangi E. 2008. Cutting the web of interests: Pitfalls of formalizing property rights. Land Use Policy 26: 36–43.

[Dit. KKJI] Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. 2010. Rencana Strategis Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Tahun 2010-2014. Jakarta: Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Folke C, T Hahn, P Olsson, J Norberg. 2005. Adaptive governance of social-ecological systems. Annual review of Environment and Resources 30: 441-473.

Francis D. 2006. Teori Dasar Transformasi Konflik Sosial. Yogyakarta: Penerbit Quills.

Gerber JD, P Knoepfel, S Nahrath, F Varone. 2009. Institutional Resources Regimes: Towards sustainability trough the combination of property rights theory and policy analysis. Ecological Economics 698: 798-809.

Klijn EH. 1997. Policy networks: An overview. In: Kickert, WJM. EH Klijn, JFM Koppenjan (Eds.). Managing Complex Networks. London: Sage. pp. 14–34.

Ostrom E. 2002. Type of Good and Collective Action. Paper presented on February 22, 2002 at Workshop in Political Theory and Policy Analysis, Bloomington, Indiana University.

________. 1990. Governing the Commons. The Evolution of institutions for Collective Action. Cambridge: Cambridge University Press.

Pedler M., Burgogyne J. and Boydell T. 1997. The Learning Company: A strategy for sustainable development. 2nd Ed. London; McGraw-Hill.

Poerwadarminta WJS. 1976. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Pomeroy RS. 1995. Community-based and co-management institutions for sustainable coastal fisheries management in Southeast Asia. Ocean & Coastal Management Vol.27 (3): 143-162.

Pomeroy RS, RB Polnac, BM Katon, CD Predo. 1997. Evaluating factors contributing to the success of community-based coastal resource management: the Central Visayas Regional Project-1, Philippines. Ocean & Coastal Management. Vol.36: 97-120.

Pomeroy RS, Brenda MK, Ingvild H. 2001. Conditions affecting the success of fisheries co-management: lessons from Asia. Marine Policy 25: 197-208.

Pomeroy RS, P McConney, R Mahon. 2004. Comparative analysis of coastal resource co-management in the Carribean. Ocean & Coastal Management 47: 429-447.

Regmi AR. 2007. The Role of Heterogeneity In Collective Action: A Look at the Intertie between Irrigation and Forests, Case Studies From Chitwan, Nepal. Indiana: School of Public and Environmental Affairs, Indiana University.

Senge PM. 1990. The Fifth Discipline. London: Century Bussiness.

Susan M. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana Media Group.

Tadjudin D. 2000. Manajemen Kolaborasi. Bogor: Pustaka Latin.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/marina.v6i1.5804

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by:

---------------------------------------------------------------------------------------

Diterbitkan Oleh:

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
bekerjasama dengan
Indonesian Marine and Fisheries Socio-Economics Research Network