ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA BUDI DAYA RUMPUT LAUT DI SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR

Permana Ari Soejarwo, Risna Yusuf, Armen Zulham

Abstract


Keberlanjutan usaha budi daya  rumput laut di Sumba Timur dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kelembagaan dan teknologi. Untuk itu, memerlukan perencanaan yang dapat menjamin keberlanjutan usaha yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan usaha budi daya  rumput laut dari faktor ekonomi, kelembagaan dan teknologi dengan menggunakan Rapid Appraisal For Fisheries (RAPFISH). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi usaha budi daya  rumput pada faktor ekonomi mempunyai nilai indeks keberlanjutan 69,73 nilai tersebut masuk kategori cukup berkelanjutan. Atribut faktor ekonomi yang paling berpengaruh yaitu usaha budi daya  rumput laut dapat membuka lapangan pekerjaan dengan nilai perubahan root means square 8.68. Selanjutnya nilai indeks keberlanjutan usaha budi daya  rumput laut pada faktor kelembagaan yaitu 74,38 nilai tersebut masuk kategori cukup berkelanjutan. Atribut faktor kelembagaan yang paling berpengaruh yaitu unit pelayan teknis kebun bibit rumput laut dengan nilai perubahan root means square 4.27. Sedangkan nilai indeks keberlanjutan faktor teknologi pada usaha budi daya  rumput laut yaitu 60,50 nilai ini masuk kategori cukup berkelanjutan. Atribut faktor teknologi yang paling berpengaruh yaitu keberadaan industri rumput laut dengan nilai perubahan root means square 3.00. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha budi daya rumput laut di Sumba Timur masih sangat berpotensi untuk dikembangkan melalui perencanaan serta pengelolaan terpadu antara pemerintah, sektor industri dan pembudi daya rumput laut dengan mempertimbangkan atribut-atribut yang paling berpengaruh dari faktor ekonomi, kelembagaan dan teknologi. 

Analysis of Seaweed Farming Business Sustainability in the East Sumba, East Nusa Tenggara

The sustainability of seaweed farming in East Sumba can be influenced by economic, institutional and technological factors. For this reason, it requires planning that can guarantee the sustainability of this business. This study aims to analyze the sustainability of seaweed farming business from economic, institutional and technological factors using Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH). The results of this study indicate that the condition of seaweed farming on economic factors has a sustainability index value of 69.73, which is categorized as sufficiently sustainable. The most influential economic factor attributes is seaweed farming business that can provide employment with a root means square change value of 8.68. Furthermore, the index value of seaweed farming sustainability in institutional factors is 74.38 and categorized as sufficiently sustainable. The most influential institutional factor attribute is the technical service unit in the seaweed seed garden with a value of root means square change of 4.27. While the technological factor sustainability index value in seaweed farming is 60.50 and categorized as sufficiently sustainable. The most influential attribute of technology factor is the presence of seaweed industry with a value of root means square of 3.00. This research showed that the sustainability of seaweed farming business in East Sumba still has the potential to be developed through integrated planning and management between the government, industrial sector and seaweed farmers by considering the most influential attributes of economic, institutional and technological factors. 


Keywords


keberlanjutan; rumput laut; ekonomi; kelembagaan; teknologi; Sumba Timur

Full Text:

PDF

References


Ask, E. I., & Azanza, R. V. (2002). Advances in cultivation technology of commercial eucheumatoid species: A review with suggestions for future research. Aquaculture, 206(3–4), 257–277. https://doi. org/10.1016/S0044-8486(01)00724-4.

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Perikanan. (2018). Model Integrasi Ekonomi Dalam Mendukung Percepatan Industrialisasi Perikanan Di Lokasi SKPT Sumba Timur. Badan Riset dan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Castellaci F. (2010). Closing the technology gap? MPRA Paper No. 27586, posted Online at http://mpra. ub.uni-muenchen.de/27586/.

Fauzi, A., dan Anna, S. (2002). Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan. Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta). Jurnal Pesisir dan Lautan, 4, (3), 43-54.

Fauzy, A., dan Anna, S., 2005. Permodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Untuk Analisis Kebijakan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Food and Agriculture Organization of The United Nations. (2014). The State of World Fisheries and Aquaculture Opportunities and challenges. In China Journal Of Traditional Chinese Medicine and Pharmacy (Vol. 25).

Kavanagh, P., & Pitcher, T. J. (2004). Implementing Microsoft Excel Software For Rapfish: A Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status. Fisheries Centre Research Reports, 12(2), 75. https://doi.org/10.14288/1.0074801.

Kim, J. K., Yarish, C., Hwang, E. K., Park, M., & Kim, Y. (2017). Seaweed aquaculture: Cultivation technologies, challenges and its ecosystem services. Algae, 32(1), 1–13. https://doi. org/10.4490/algae.2017.32.3.3.

Marzuki, M., Nurjaya, I. W., Purbayanto, A., Budiharso, S., & Supriyono, E. (2014). Sustainabiliy Analysis of Mariculture Management In Saleh Bay of Sumbawa District. Environmental Management and Sustainable Development, 3(2), 127. https:// doi.org/10.5296/emsd.v3i2.6427.

Marzuki, M., Nurjaya, I. W., Purbayanto, A., Budiharso, S., & Supriyono, E. (2017). Tinjauan Dimensi Ekonomi Keberlanjutan Pengelolaan Budidaya Laut Di Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa. https://doi.org/10.15578/jsekp.v8i2.5670.

Matuschke, I. (2008). Evaluating the impact of social networks in rural innovation systems: An overview. IFPRI Discussion Paper, (November), 26. Retrieved from http://www.ifpri.org/sites/ default/files/publications/ifpridp00816.pdf.

Msuya, F. E. (2011). The impact of seaweed farming on the socioeconomic status of coastal communities in Zanzibar, Tanzania. World Aquaculture, 42(3), 45–48.

Nababan, B. O., Dewita, Y., & Hermawan, M. (2007). Di Kabupaten Tegal Jawa Tengah (Teknik Pendekatan RAPFISH) Oleh : Pendahuluan Perikanan adalah salah satu sektor yang diandalkan untuk pembangunan masa depan Indonesia , karena dapat memberikan dampak ekonomi kepada sebagian penduduk Indonesia . Selain . 2(2), 137–158.

Parenrengi, A., Madeali, M.I., & Rangka, N.A. (2007a). Penyediaan benih dalam menunjang pengembangan budidaya rumput laut. Makalah disampaikan pada Workshop Rumput Laut, Sangiaseri Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, hlm. 23-59.

Pettersson-Löfquist, P. (1995). The development of open-water algae farming in Zanzibar: Reflections on the socioeconomic impact. Ambio 24:487-491.

Pitcher, T. J., & Priekshot, D. (2001). RAPFISH: a rapid appraisal technicque to evaluate the substantiality status of fisheries. Fisheries Research, 49. Retrieved from http:// citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.552.7110&rep=rep1&type=pdf.

Radulovich, R., Neori, A., Valderrama, D., Reddy, C. R. K., Cronin, H., & Forster, J. (2015). Farming of seaweeds. In Seaweed Sustainability: Food and Non-Food Applications. https://doi.org/10.1016/ B978-0-12-418697-2.00003-9.

Soejarwo, P. A. (2016). PENERAPAN RAPFISH DALAM PENILAIAN KEBERLANJUTAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KAWASAN PESISIR PULAU PANJANG SERANG, BANTEN. Thesis, 839/ S2-TL/(Mei), 261. https://doi.org/10.1093/oxford hb/9780199595686.013.0001.

Sri Fitrianti, R., Mukhlis Kamal, M., & Kurnia, R. (2014). Analisis Keberlanjutan Perikanan Ikan Terbang di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Depik, 3(2). https://doi.org/10.13170/depik.3.2.1470.

Sulaeman, Parenrengi, A., Suryati, E., & Tenriulo, A. (2005). Genetical and morphological differences of two different variety of seaweed Kappaphycus alvarezii. Paper presented at World Aquaculture Society, Denpasar 9- 13 May 2005, 5 pp.

Susilo, S. B. (2003). Keberlanjutan Pembangunan Pulau-Pulau Kecil: Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Valderrama, D., Cai, J., Hishamunda, N., & Ridler, N. (2013). Social and economic dimensions of carrageenan seaweed farming: a global synthesis. In Fisheries and Aquaculture Technical Paper (Vol. 580).

Valderrama, D., Cai, J., Hishamunda, N., Ridler, N., Neish, I. C., Hurtado, A. Q., Fraga, J. (2015). The Economics of Kappaphycus Seaweed Cultivation in Developing Countries: A Comparative Analysis of Farming Systems. Aquaculture Economics and Management, 19(2), 251–277. https://doi.org/10. 1080/13657305.2015.1024348.

Yusuf, N. R., Niartiningsih, A., & Rani, C. (n.d.). Keberlanjutan Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii (Doty) di Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jsekp.v14i1.7815

Indexed by:

---------------------------------------------------------------------------------------

Diterbitkan Oleh:

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
bekerjasama dengan
Indonesian Marine and Fisheries Socio-Economics Research Network