POLA PEMANFAATAN EKOSISTEM LAMUN OLEH MASYARAKAT PESISIR DI KABUPATEN BUTON SELATAN
Abstract
Ekosistem lamun memiliki peran vital bagi keberlanjutan pesisir, baik sebagai penyedia pangan, pelindung habitat, maupun penopang sosial-ekonomi masyarakat. Namun, pemanfaatannya yang tidak seimbang berpotensi menurunkan daya dukung ekosistem. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pemanfaatan ekosistem lamun oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Buton Selatan pada dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan ekologi, serta menilai faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Juni 2024 di Pulau Siompu, Pulau Kadatua, dan Teluk Lande dengan pendekatan survei rumah tangga, wawancara, dan pemantauan lapangan. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan metode deskriptif, ANOVA satu arah, serta transformasi MSI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan lamun masih rendah, dengan dominasi pada dimensi ekonomi berupa konsumsi dan penjualan ikan, sedangkan pemanfaatan sosial-budaya dan ekologi belum berkembang optimal. Terdapat perbedaan signifikan antar lokasi, di mana masyarakat di wilayah kepulauan (Siompu dan Kadatua) lebih intensif memanfaatkan lamun dibandingkan Teluk Lande. Sementara itu, tingkat pendidikan formal tidak berpengaruh nyata terhadap pola pemanfaatan, yang lebih banyak dipengaruhi kebutuhan subsisten, pengalaman praktis, dan tradisi lokal. Temuan ini menegaskan bahwa strategi pengelolaan lamun perlu mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi masyarakat setempat agar dapat mendukung keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan pesisir.
Seagrass ecosystems play a crucial role in supporting coastal sustainability by providing food resources, protecting habitats, and sustaining the socio-economic life of local communities. However, unbalanced utilization threatens their ecological resilience and long-term productivity. This study aims to describe the utilization patterns of seagrass ecosystems by coastal communities in South Buton Regency across economic, sociocultural, and ecological dimensions, as well as to identify the influencing factors. The research was conducted from March to June 2024 in Siompu Island, Kadatua Island, and Lande Bay through household surveys, key informant interviews, and field monitoring. Data were collected using Likert-scale questionnaires and analyzed with descriptive statistics, one-way ANOVA, and MSI transformation. The findings reveal that seagrass utilization remains relatively low, dominated by economic activities such as fish consumption and sales, while sociocultural and ecological uses are still underdeveloped. Significant differences were found among locations, with island communities (Siompu and Kadatua) utilizing seagrass more intensively than those in Lande Bay. Furthermore, formal education level did not significantly affect utilization patterns, which were mainly shaped by subsistence needs, practical experience, and local traditions. These results highlight the importance of integrating socio-economic contexts into seagrass management strategies to ensure ecosystem sustainability and enhance coastal community livelihoods.
Full Text:
PDFDOI: http://dx.doi.org/10.15578/salamata.v7i2.17590
Diterbitkan Oleh:
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone
Jl. Sungai Musi Km 09, Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Indonesia
Telp/Fax: (0481) 2920204

Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.
p-ISSN: 2615-5753
e-ISSN : 2963-6493
Indexed by:
















