DINAMIKA PERUBAHAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DAN STRATEGI PENGELOLAAN BERKELANJUTAN DI PULAU PANNIKIANG
Abstract
Ekosistem padang lamun merupakan salah satu komponen penting di wilayah pesisir tropis karena memiliki fungsi ekologis sebagai habitat, daerah asuhan (nursery ground), dan sumber pangan bagi berbagai biota laut, sekaligus bernilai ekonomis sebagai penopang aktivitas perikanan tangkap maupun pariwisata bahari. Namun, kondisi padang lamun di banyak wilayah Indonesia menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan akibat kombinasi faktor alami dan antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan luasan padang lamun di Pulau Pannikiang, Kabupaten Barru, dalam periode 2013–2018, serta menyusun strategi pengelolaan berkelanjutan yang melibatkan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan. Data yang digunakan meliputi citra satelit SPOT 6 tahun 2013 dan Sentinel-2A tahun 2015–2018 yang kemudian diolah melalui analisis klasifikasi supervised serta didukung oleh data lapangan. Hasil analisis menunjukkan penurunan luasan lamun dari 240,91 ha pada tahun 2013 menjadi hanya 15,04 ha pada tahun 2018, dengan total kehilangan seluas 225,87 ha. Penurunan tersebut didorong oleh faktor alami, seperti arus dan gelombang kuat, serta aktivitas manusia, seperti destructive fishing, pembuangan limbah, peningkatan sedimentasi, dan tekanan wisata bahari. Analisis SWOT mengungkapkan bahwa strategi prioritas pengelolaan yang dapat diterapkan antara lain penetapan alat tangkap ramah lingkungan, penguatan pengawasan kawasan, konservasi berbasis masyarakat, pelatihan ekowisata dan kebun bibit lamun, serta penataan zona pemanfaatan yang adaptif. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas sektor dan berbasis data ilmiah dalam upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem lamun. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, masyarakat lokal, maupun stakeholder lain dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir di Pulau Pannikiang.
Seagrass ecosystems are an important component of tropical coastal ecology because they serve as habitats, nursery grounds, and food sources for various marine biota, as well as providing economic value as a support for fishing activities and marine tourism. However, the condition of seagrass meadows in many regions of Indonesia shows a significant downward trend due to a combination of natural and anthropogenic factors. This study aims to analyze the dynamics of changes in seagrass meadow area on Pannikiang Island, Barru Regency, during the period 2013–2018, and to develop a sustainable management strategy involving the participation of the community and stakeholders. The data used include SPOT 6 satellite imagery from 2013 and Sentinel-2A from 2015–2018, which are then processed through supervised classification analysis and supported by field data. The analysis showed a decline in seagrass area from 240.91 ha in 2013 to only 15.04 ha in 2018, with a total loss of 225.87 ha. This decline was driven by natural factors, such as strong currents and waves, as well as human activities, such as destructive fishing, waste disposal, increased sedimentation, and marine tourism pressure. The SWOT analysis revealed that priority management strategies that could be implemented include establishing environmentally friendly fishing gear, strengthening area surveillance, community-based conservation, ecotourism training and seagrass nurseries, and structuring adaptive utilization zones. This study emphasizes the importance of a collaborative, cross-sectoral approach based on scientific data in efforts to protect and manage seagrass ecosystems. The resulting recommendations are expected to serve as a reference for local governments, local communities, and other stakeholders in maintaining the sustainability of coastal resources on Pannikiang Island.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Alhaddad, M, S., Susanto, A, N., Salim, F, D. (2022). Status of Conditions and Identification of Damage to Seagrass Beds in the Waters of South Kayoa District, South Halmahera Regency. Jurnal Biologi Tropis, 22(3): 940-946. DOI:http://dx.doi.org/10.29303/jbt.v22i3.4087
Carter, A.B., Coles, R., Jarvis, J.C., Bryant, C. V., Smith, T. M. (2023). A report card approach to describe temporal and spatial seagrass changes in an urbanised tropical embayment. PLoS ONE. 18(1).
Duarte, C. M., Dennison, W. C., Orth, R. J. W., & Carruthers, T. J. B. (2020). The role of seagrass meadows in global carbon cycles and climate change mitigation. Nature Climate Change, 10(3), 153–160. https://doi.org/10.1038/s41558-019-0578-6
Hasanah, U., Pribadi, R., & Hidayat, M. (2020). Analisis faktor sosial-ekonomi dalam pengelolaan ekosistem lamun di Indonesia. Jurnal Sumberdaya Perairan, 14(2), 85–95.
Kusnida, D., Mawardi, S., Yosi, M., Arifin, L., Nineu, D., Geurhaneu, Y., Penelitian, P., Pengembangan,
D., Kelautan, G., & Junjunan, J. (2021). REVIEW:
Sedimentasi dan penyempitan mixing zone di Perairan Pesisir Muara Tawar Kabupaten Bekasi. Jurnal Geologi Kelautan, 19(1), 13-18.
Malik, A., Sideng, U., & Jaelani. (2022). Biomass Carbon Stock Assessment of Mangrove Ecosystem in
Pannikiang Island South Sulawesi Indonesia. Indonesian Journal of Geography, 54(1), 11-19.DOI:http://dx.doi.org/10.22146/ijg.46989
Mawardi, Sarong, M. A., Suhendrayatna, & Irham, M. (2024). The relationship between crustacean diversity and population dynamics of Blood Cockle Tegillarca granosa in the coastal area of West Langsa, Aceh Province, Indonesia. Biodiversitas, 25(2), 690–699. https://doi.org/10.13057/biodiv/d250228
Metekohy, A. E. (2016). Strategi pengelolaan ekosistem lamun di perairan Pantai Kampung Holtekamp Distrik Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua. The Journal of Fisheries Development, 3(1), 1–10.
Mutmainah, H., Kusumah, G., Altanto, T., & Ondara, K. (2016). Kajian kesesuaian lingkungan untuk pengembangan wisata di Pantai Ganting, Pulau Simeulue, Provinsi Aceh. Depik, 5(1). https://doi.org/10.13170/depik.5.1.3844
Ningrum, K. P., Endrawati, H., & Riniatsih, I. (2020). Simpanan Karbon pada Ekosistem Lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Karimunjawa, Jawa Tengah. Journal of Marine Research, 9(3), 289–295. https://doi.org/10.14710/jmr.v9i3.27558
Nugraha, A. H., Srimariana, E. S., Jaya, I., & Kawaroe, M. (2019). Struktur ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau, pesisir bintan timur-Indonesia. Depik, 8(2), 87–96. https://doi.org/10.13170/depik.8.2.13326
Nugroho, A., Santoso, H., & Prasetyo, Y. (2022). Penguatan regulasi lokal dalam pengelolaan ekosistem lamun berbasis masyarakat. Jurnal Kebijakan Kelautan, 5(1), 45–56.
Putri, A., Wibowo, T., & Maulana, A. (2023). Hubungan parameter fisika-kimia perairan terhadap distribusi lamun di pesisir tropis Indonesia. Jurnal Kelautan Tropis, 26(1), 33–42.
Rahmawati, D., & Riani, E. (2021). Dampak aktivitas antropogenik terhadap perubahan ekosistem lamun di Indonesia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 19(2), 120–130.
Rifai, H., Hernawan, U. E., Zulpikar, F., Sondakh, C. F. A., Ambo-Rappe, R., Sjafrie, N. D. M., Irawan, A., Dewanto, H, Y. Rahayu, Y, P. Reenyen, J., Safaat, M., Rahmawati, S., Hakim, A., Wawo, M. (2022). Strategies to Improve Management of Indonesia’s Blue Carbon Seagrass Habitats in Marine Protected Areas. Coastal Management, 50(2), 93–105. https://doi.org/10.1080/08920753.2022.2022948
Habibah, S.N., Febriamansyah, R., Mahdi. (2023). Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Lamun di Kawasan Konservasi Perairan Wilayah Timur Pulau Bintan. https://ojs.umrah.ac.id/index.php/akuatiklestari/article/view/5612
Sinaga, P. Harefa, M, S., Siburian, P, A., & Aisyah, S. (2023). Konsep Penanggulangan Sampah di Wilayah Ekosistem Hutan Mangrove Belawan Sicanang dalam Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan. Journal of community Cervice and Empowerment, 1(1), 1-9. https://doi.org/10.58536/j-cose.v1i1.2o.
Setiawan, F., Harahap, S. A., Andriani, Y., & Hutahaean, A. A. (2022). Deteksi perubahan padang lamun menggunakan penginderaan jauh dan kaitannya dengan kemampuan menyimpan karbon di perairan Teluk Banten. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 12(3), 275–286.
Trinh, X. T., Nguyen, L. D., & Takeuchi, W. (2023). Sentinel-2 mapping of a turbid intertidal seagrass meadow in Southern Vietnam. Geocarto International, 38(1). https://doi.org/10.1080/10106049.2023.2186490
Waycott, M., Duarte, C. M., Carruthers, T. J., Orth, R. J., Dennison, W. C., Olyarnik, S., Calladine, A., Fourqurean, J. W., Heck, K. L., Hughes, A. R., Kendrick, G. A., Kenworthy, W. J., Short, F. T., & Williams, S. L. (2009). Accelerating loss of seagrasses across the globe threatens coastal ecosystems. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(30), 12377–12381. https://doi.org/10.1073/pnas.0905620106
DOI: http://dx.doi.org/10.15578/salamata.v8i1.19227
Diterbitkan Oleh:
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone
Jl. Sungai Musi Km 09, Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Indonesia
Telp/Fax: (0481) 2920204

Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.
p-ISSN: 2615-5753
e-ISSN : 2963-6493
Indexed by:
















