BUDIDAYA PEMBESARAN KEPITING BAKAU Scylla tranquebarica (Fabricius, 1798) HASIL PEMBENIHAN PADA LOKASI TAMBAK YANG BERBEDA

Muhammad Nur Syafaat, Gunarto Gunarto

Abstract


Kegiatan pembesaran kepiting bakau hasil pembenihan di tambak masih terbatas dan pada umumnya masih merupakan kegiatan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan, sintasan, produksi, dan membuat analisis usaha pembesaran krablet kepiting bakau hasil pembenihan pada beberapa lokasi tambak tradisional. Penelitian dilakukan di tiga lokasi tambak yaitu Maros, Pangkep, dan Polewali Mandar (Polman). Tambak yang digunakan pada setiap lokasi merupakan tambak tradisional berkonstruksi tanah dengan sistem penggantian air berdasarkan pasang surut. Krablet kepiting bakau dengan kisaran bobot 0,05-0,1 g/ekor ditebar dengan kepadatan 0,24 ekor/m2 dan 0,27 ekor/m2 untuk Kabupaten Pangkep dan Polman secara berurutan sedangkan pada Kabupaten Maros dengan kepadatan 0,53 ekor/m2. Jenis pakan yang diberikan yaitu ikan rucah atau ikan liar yang ada di sekitar lokasi tambak dengan dosis 5%-10% dari biomassa dan diberikan dua atau tiga hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kepiting bakau di tiga lokasi pada bulan ketiga diperoleh bobot akhir rata-rata dengan kisaran 131,05-199,50 g/ekor (163,17 ± 34,42); sintasan 22%-36,94% (30,41 ± 7,65); dan produksi 79,25-272,12 kg/ha (176,07 ± 96,43). Keuntungan tertinggi diperoleh pada lokasi Maros yaitu Rp5.454.750,00/ha/siklus dan terendah di lokasi Polman yaitu Rp317.150,00/ha/siklus. Nilai R/C rasio untuk semua lokasi menunjukkan lebih besar dari satu yang berarti bahwa usaha pembesaran kepiting bakau di tambak menggunakan krablet asal hatchery merupakan usaha yang layak. Ketersediaan pakan yang cukup, keberadaan shelter, pergantian air secara rutin dan kondisi kualitas air yang optimal merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produksi pada ketiga lokasi di samping meningkatkan kepadatan sampai 1 ekor/m2.

The grow-out cultures of hatchery-produced mudcrab seed in pond are rare and mostly part of research activities. The purpose of this study was to determine the performance of growth, survival rate, production, and develop a business analysis of mudcrab (S. tranquebarica) grow-out culture in different pond locations using hatchery-reared seed. The study was conducted in three pond areas in Maros, Pangkep, and Polewali Mandar (Polman). The ponds used in each location were traditional soil ponds with sufficient tidal system for water exchange. Crablets with a weight range of 0.05-0.1 g were reared in the ponds located in Pangkep, Polman and Maros with stocking densities of 0.24, 0.27 and 0.53 ind./m2, respectively. The feed used was trash fish or locally caught wild fish and given 5%-10% of the total crab biomass once every two or three days. The results showed that the average final weight of mudcrab in the three locations during three months rearing period was 131.05-199.50 g/ind. (163.17 ± 34.42) with survival rates of 22%-36.94% (30.41 ± 7.65), and crab production of 79.25-272.12 kg/ha (176.07 ± 96.43). The highest profit was obtained by grow-out culture in Maros location (IDR 5,454,750/ha/cycle) followed by Pangkep location (IDR 4,624,400/ha/cycle) and the lowest at Polman location (IDR 317,150/ha/cycle). The R/C ratio for all locations was greater than one which means that mudcrab culture in pond using seed from hatchery is economically feasibility.


Keywords


pembesaran; kepiting bakau; tambak; culture; mudcrab; pond

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/ma.13.1.2018.21-30


Creative Commons License
Media Akuakultur is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats
p-ISSN 1907-6762
e-ISSN 2502-9460
Find in a library with WorldCatCrossref logoSHERPA/RoMEO Logogoogle scholarDirectory of Open Access Journals