IDENTIFIKASI POTENSI KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI TELUK MULUT SERIBU, ROTE NDAO, NUSA TENGGARA TIMUR

Ariani Andayani, Amin Pamungkas

Abstract


Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan. Salah satu sentra budidaya rumput laut yang akan dikembangkan adalah Kabupaten Rote Ndao, yang memiliki ketersediaan perairan potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Kajian kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut perlu dilakukan untuk keberlanjutan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik dan kesesuain perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Teluk Mulut Seribu, Rote Ndao. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan dengan pengukuran langsung dan mengambil sampel untuk dianalisis di laboratorium. Distribusi spasial kualitas perairan di area kajian diinterpolasi menggunakan metode IDW dengan perangkat lunak ArcGIS. Ada 4 parameter yang diperhitungkan dalam analisis spasial, yaitu: kedalaman, kecepatan arus, kecerahan dan alur layar, yang ditumpangsusun tanpa pembobotan untuk mendapatkan peta kesesuaian. Sementara itu beberapa parameter lainnya tidak masuk dalam analisis spasial karena kisaran nilainya sudah sesuai untuk budidaya rumput laut. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut di perairan Mulut Seribu mencapai 56% atau 497,68 hektar dari 879,18 hektar area kajian. Area yang sesuai untuk budidaya rumput laut tersebut memiliki potensi panen hingga 50 ton per siklus.

Seaweed is one of the leading commodities in fisheries sector. In Rote Ndao regency, plans to develop seaweed aquaculture centers have been advised considering the regency’s potential coastline areas for seaweed farms. However, a site suitability study is needed to determine if the area is suitable for seaweed aquaculture to ensure its long term sustainability. This study was aimed to examine the characteristics and suitability of Teluk Mulut Seribu waters in Rote Ndao for seaweed cultivation. Data collection on water quality parameters was done via in-situ measurement and samples were collected to be analysed ex-situ in the laboratory. The full extent of spatial distributions of water quality parameters was determined using IDW interpolation tool available in ArcGIS. The four parameters used in the spatial analysis, namely: depth, current velocity, brightness, and sea transportation line were overlaid using non-weighted arithmetic mean operation to create a final composite of suitability map. The other measured parameters were not included in the spatial analysis because the value ranges were considered suitable for seaweed cultivation. The results showed that 56% or 497.68 ha from 879.18 ha of seascape in Teluk Mulut Seribu are suitable for seaweed farming.This study recommends that these suitable areas can be used for seaweed aquaculture with a predicted harvest potential up to 50 ton per culture cycle.




Keywords


budidaya rumput laut; analisis spasial; Rote Ndao; seaweed farming; spatial analysis; Rote Ndao

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/ma.13.2.2018.99-107


Creative Commons License
Media Akuakultur is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats
p-ISSN 1907-6762
e-ISSN 2502-9460

Find in a library with WorldCatCrossref logoSHERPA/RoMEO Logogoogle scholarDirectory of Open Access Journals