PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) HASIL DOMESTIKASI PADA LOKASI DENGAN KETINGGIAN BERBEDA

Jojo Subagja, Vitas Atmadi Prakoso, Otong Zenal Arifin, Yanto Suparyanto, Endang Haris Suhud

Abstract


Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu ikan asli yang terdapat di Indonesia. Ikan ini memiliki harga lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis ikan lainnya yang telah populer di kalangan konsumen. Saat ini, ikan ini sedang pada program domestikasi dimana informasi mengenai lokasi yang sesuai untuk pemeliharaan ikan baung belum banyak dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan benih ikan baung pada dua lokasi pemeliharaan dengan ketinggian yang berbeda. Penelitian dilakukan pada lokasi dengan ketinggian rendah (< 200 m dpl) di daerah Cijengkol dan lokasi dengan ketinggian sedang (200-400 m dpl) di daerah Maleber, Jawa Barat. Benih ikan baung hasil domestikasi (bobot: 21,62 ± 0,57 g) ditebar pada tiga buah jaring masing-masing berukuran 2 m x 2 m x 1 m dengan padat tebar 15 ekor/m3 di kolam berukuran 40 m x 20 m yang terletak pada masing-masing lokasi pengujian. Ikan diberi makan dengan pakan komersial (30% protein) sebanyak 5% biomassa per hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari selama 180 hari masa pemeliharaan. Kualitas air yang diamati meliputi suhu, oksigen terlarut, dan pH. Parameter yang diukur yaitu pertambahan panjang, pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, rata-rata pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, rasio konversi pakan, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih ikan baung yang dipelihara pada ketinggian < 200 m dpl menunjukkan pertambahan bobot dan biomassa yang lebih baik (30,93 ± 2,29 g dan 7,44 ± 0,79 kg) dibandingkan jika dipelihara pada ketinggian 200-400 m dpl (22,32 ± 1,26 g dan 5,97 ± 0,65 kg) (P<0,05). Rasio konversi pakan pada ikan baung yang dipelihara pada dataran rendah lebih rendah (2,37) dibandingkan jika dipelihara pada dataran sedang (2,68). Suhu air pada ketinggian < 200 m dpl lebih tinggi dibandingkan pada ketinggian 200-400 m dpl (P<0,05). Benih ikan baung tumbuh lebih optimal jika dipelihara di daerah dataran rendah, karena pada daerah tersebut memiliki suhu lebih tinggi yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan.

Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is one of Indonesia’s native fish species. This species has a higher commercial value compared to some other fish species already popular among consumers. The fish is currently under a domestication program which information regarding the suitable rearing location has yet to be established. This research was aimed to study the growth of Asian redtail catfish fingerlings reared in two different-altitude locations. The evaluate was conducted at low-altitude location (< 200 m above sea level) in Cijengkol area and mid-altitude location (200-400 m above sea level) in Maleber area, West Java. In each location, the fingerlings of domesticated Asian redtail catfish (weight: 21.62 ± 0.57 g) were stocked in three net cages sized 2 m x 2 m x 1 m in a pond (40 m x 20 m) with a stocking density of 15 fish/m3 per net cage. The fingerlings were fed with commercial feed (30% protein) of 5% fish biomass per day with feeding frequency twice a day for the period of 180 days. The water quality parameters observed were temperature, dissolved oxygen, and pH. The measured experimental parameters were length gain, weight gain, specific growth rate, average daily growth, biomass gain, feed conversion ratio, and survival rate. The results showed that the fish reared at <200 m above sea level had better weight and biomass gains (30.93 ± 2.29 g and 7.44 ± 0.79 kg) than that of the fish reared at 200-400 m above sea level (22.32 ± 1.26 g and 5.97 ± 0.65 kg) (P<0.05). The feed conversion ratio of fingerlings reared at the low-altitude location was lower (2.37) than those of the mid-altitude location (2.68).The water temperature at < 200 m above sea level was significantly higher than that of 200-400 m above sea level (P<0.05). The growth of Asian redtail catfish fingerlings is more optimal in lowland areas due to higher water temperature accelerating the fish growth rate.


Keywords


Hemibagrus nemurus; domestikasi; pertumbuhan; ketinggian; Hemibagrus nemurus; domestication; growth; altitude

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.15578/ma.13.2.2018.59-65


Creative Commons License
Media Akuakultur is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats
p-ISSN 1907-6762
e-ISSN 2502-9460

Find in a library with WorldCatCrossref logoSHERPA/RoMEO Logogoogle scholarDirectory of Open Access Journals