ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN SIMEULUE, ACEH

I Nyoman Radiarta, Erlania Erlania, Joni Haryadi

Abstract


Rumput laut merupakan salah satu primadona produksi perikanan budi daya di Indonesia. Ektensifikasi lokasi budi daya rumput laut telah menyebar sampai ke pulau-pulau terdepan Indonesia. Perluasan kawasan ini harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi yang akurat tentang kesesuaian perairan lokasi budi daya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial kesesuaian dan daya dukung perairan untuk pengembangan budi daya rumput laut di Kabupaten Simeulue, Aceh. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2015, dan berlokasi di tiga teluk besar yaitu Teluk Sibigo, Teluk Dalam, dan Teluk Sinabang. Analisis spasial kesesuaian lahan dilakukan dengan sistem informasi geografis berdasarkan multi criteria evaluation dengan menggabungkan tiga submodel yaitu fisik dan geografi, kualitas air, dan sosial infrastruktur. Daya dukung kawasan dihitung dengan pendekatan kapasitas unit budi daya di perairan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga teluk memiliki potensi pengembangan dengan luasan yang bervariasi: 159 ha (Teluk Sibigo), 808 ha (Teluk Dalam), dan 684 ha (Teluk Sinabang). Perhitungan daya dukung menunjukkan bahwa Teluk Dalam mempunyai kapasitas yang terluas yaitu 494,7 ha. Pemanfaatan kawasan secara maksimal dapat mencapai produksi berkisar antara 723-3030 ton/siklus tanam. Kesesuaian lahan (zonasi) dan daya dukung perairan yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dijadikan landasan penting mendukung penerapan budi daya perikanan yang berbasis ekosistem.


Keywords


Analisis spasial, rumput laut, kesesuaian perairan, daya dukung, Kabupaten Simeulue

Full Text:

PDF

References


Aguilar-Manjarrez, J., Kapetsky, J.M. & Soto, D. (2010). The potential of spatial planning tools to support the ecosystem approach to aquaculture.FAO/Rome. Expert Workshop. 19-21 November 2008, Rome, Italy. FAO Fisheries and Aquaculture Proceedings. No.17. Rome, FAO. 176 hal.

Anonimous. (2015). Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi di Kabupaten Simeuleu. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. 152 hal.

Azis, H.Y. (2011). Optimasi Pengelolaan Sumberdaya Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 163 hal.

Banai-Kashani, R. (1989). A new method for site suitability analysis: the analytic hierarchy process. Environmental Management, 13: 685-693.

[BBL Lombok] Balai Budi daya Laut Lombok. (2012). Petunjuk teknis Budi daya Rumput Laut. Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan. 31 hal.

Byron, C.J. & Costa-Pierce, B.A. (2013). Carrying capacity tools for use in the implementation of an ecosystems approach to aquaculture. In L.G. Ross, T.C. Telfer, L. Falconer, D. Soto & J. Aguilar-Manjarrez, eds. Site selection and carrying capacities for inland and coastal aquaculture, pp. 87-101. FAO/Institute of Aquaculture, University of Stirling, Expert Workshop, 6-8 December 2010. Stirling, the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. FAO Fisheries and Aquaculture Proceedings No. 21. Rome, FAO. 282 hal.

Costa-Pierce, B. (2008). An ecosystem approach to marine aquaculture: a global review. In D. Soto, J. Aguilar-Manjarrez and N. Hishamunda (eds). Building an ecosystem approach to aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Proceedings. No. 14. Rome, FAO. 81-155.

De Sousa, F.E.S., Moura, E.A. & Soriano, E.M. (2012). Use of geographic information systems (GIS) to identify adequate sites for cultivation of the seaweed Gracilaria birdiae in Rio Grande do Norte, Northeastern Brazil. Revista Brasileira de Farmacognosia Brazilian Journal of Pharmacognosy, 22(4): 868-873.

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.

Erlania, Radiarta, I N. & Haryadi, J. (2017). Seleksi parameter pembentuk indeks kualitas perairan untuk pengembangan budi daya laut: studi kasus perairan Teluk Sinabang, Aceh. Segara (under review).

Erlania & Radiarta, I.N. (2014). Management of sustainable seaweed (Kappaphycus alvarezii) aquaculture in the context of climate change mitigation. Indonesian Journal Aquaculture, 9 (1): 65-72.

FAO. (2016). Global Aquaculture Production (online query). diunduh tanggal 1 Mei 2016.

GESAMP (IMO/FAO/UNESCO-IOC/WMO/WHO/IAEA/UN/UNEP Joint group of experts on the scientific aspects of marine environmental Protection), 2001. Planning and management for sustainable coastal aquaculture development. FAO Rep. Stud. GESAMP No. 68. 90 hal.

KKP. (2014). Kelautan dan perikanan dalam angka tahun 2014. Pusat Data Statistik dan Informasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 302 hal.

KLH [Kementerian Lingkungan Hidup]. (2004). Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, tanggal 8 April 2004 tentang baku mutu air laut. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta. 11 hal.

Liu, Y., Saitoh, S.I., Radiarta, I.N., Isada, T., Hirawake, T., Mizuta, H. & Yasui, H. (2013). Improvement of an aquaculture site-selection model for Japanese kelp (Saccharina japonica) in southern Hokkaido, Japan: an application for the impacts of climate events. ICES Journal of Marine Science, 70 (7), 1460-1470. doi:10.1093/icesjms/fst108.

Liu, Y., Saitoh, S-I., Radiarta, I.N., Igarashi, H. & Hirawake, T. (2014). Spatiotemporal variations in suitable areas for Japanese scallopaquaculture in the Dalian coastal area from 2003 to 2012. Aquaculture, 422-423: 172-183.

Malczewski, J. (1999). GIS and mutlicriteria decision analysis. John Wiley & Sons. New York, 392 hal.

Malczewski, J. (2000). On the use of weighted linear combination method in GIS: common and best practice approach. Transaction in GIS, 4: 5-22.

Mubarak, H., Ilyas, S., Ismail, W., Wahyuni, I.S., Hartati, S.H., Pratiwi, E., Jangkaru, Z. & Arifuddin, R. (1990). Petunjuk Teknis Budi daya Rumput Laut. Badan Litbang Pertanian, Puslitbang Perikanan. IDRC, Infish. 93 hal.

Nath, S.S., Bolte, J.P., Ross, L.G. & Aguilar-Manjarrez, J. (2000). Applications of geographical information systems (GIS) for spatial decision support in aquaculture. Aquacultural Engineering, 23: 233-278.

Parenrengi, A., Rachmansyah. & Suryati, E. (2011). Budi daya Rumput Laut Penghasil Karaginan (Karaginofit). Edisi Revisi. Balai Riset Perikanan Budi daya Air Payau, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta. 54 hal.

Perera, R.P. (2013). Public Sector Regulatory Systems for Ecosystems Based Management of Aquaculture: a Gap Analysis Tool. NACA, Bangkok, Thailand. 28 hal..

Radiarta, I,N., Saitoh, S-I. & Miyazono, A. (2008). GIS-based multi-criteria evaluation models for identifying suitable sites for Japanese scallop (Mizuhopecten yessoensis) aquaculture in Funka Bay, southwestern Hokkaido, Japan. Aquaculture, 284: 127-135.

Radiarta, I .N., Saitoh S-I. & Yasui, H. (2011). Aquaculture site selection for Japanese kelp (Laminaria japonica) in southern Hokkaido, Japan, using satellite remote sensing and GIS-based models. ICES Journal of Marine Science, 68: 773-780.

Radiarta, I.N., Erlania. & Rasidi. (2014). Analisis pola musim tanam rumput laut, Kappaphycus alvarezii melalui pendekatan kesesuaian lahan di Nusa Penida, Bali. Jurnal Riset Akuakultur, 9 (2): 319-330.

Ross, L.G., Falconer, L.L., Mendoza, A.C. & Palacios, C.A.M. (2011). Spatial modelling for freshwater cage location in the Presa Adolfo Mateos Lopez (El Infiernillo), Michoacan, Mexico. Aquaculture Research, 42: 797-807.

Ross, L.G., Telfer, T.C., Falconer, L., Soto, D., Aguilar-Manjarrez, J., eds. (2013). Site selection and carrying capacities for inland and coastal aquaculture. FAO/Institute of Aquaculture, University of Stirling, Expert Workshop, 6-8 December 2010. Stirling, the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. FAO Fisheries and Aquaculture Proceedings No. 21. Rome, FAO. 46 hal.

Sanchez-Jerez, P., Karakassis, I., Massa, F., Fezzardi, D., Anguilar Manjarrez, J., Soto, D., Chapela,R., Avila, P., Macias, J.C., Tomassetti, P., Marino, G., Borg, J.A., Franicevic,V., Yucel-Gier, G., Fleming, I.A., Biao, X., Nhhala,H., Hamza, H., Forcada, A. & Dempster,T. (2016). Aquaculture’s struggle for space: the need for coastal spatial planning and the potential benefits of allocated zones for aquacultyre (AZAs) to avoid conflict and promote sustainability. Aquaculture Environment Interaction, 8: 41-54.

Schlitzer, R. (2011). Ocean Data View. WWW Page. http://odv.awi.de.

Soto, D., Aguilar-Manjarrez, J. & Hishamunda, N. (eds). (2008). Building an ecosystem approach to aquaculture. FAO/Universitat de les Illes Balears Expert Workshop. 7-11 May 2007, Palma de Mallorca, Spain. FAO Fisheries and Aquaculture Proceedings. No. 14. Rome, FAO. 221 hal.

Stead, S.M., Burnell, G. & Goulletquer, P. (2002). Aquaculture and its role in integrated coastal zone management. Aquac. Int. 10: 447-468.

Sulistijo & Nontji, A. (1995). Potensi lingkungan laut untuk kegiatan budi daya. Sudradjat et al. (penyunting). Prosiding temu usaha pemasyarakatan teknologi keramba jaring apung bagi budi daya laut, Jakarta 12-13 April 1995. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan Forum Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Agribisnis. Hal. 54-68.

Telfor, T. & Robinson, K. (2003). Environmental quality and carrying capacity for aquaculture in Mulroy Bay Co. Donegal. Marine Institute, Marine Environment and Food Safety Services, Parkmore, Galway. Marine Environment and Health Series, No.9. 103 hal.

Tiensongrusmee, B. (1990). Site selection for Eucheuma spp. farming. UNDP/FAO Regional Seafarming Development and Demonstration Project (RAS/90/002). Kasetsart University Campus, Bangkok, Thailand. http://www.fao.org/docrep/field/003/AB738E/AB738E00.htm#TOC disadur tanggal 30 November 2010.

Yuniarsih, E., Nirmala, K. & Radiarta, I.N. (2014). Tingkat penyerapan nitrogen dan fosfor pada budi daya rumput laut berbasis IMTA (integrated multi-trophic aquaculture) di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Riset Akuakultur, 9 (3): 487-501.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/segara.v14i1.6626

Copyright (c) 2018 JURNAL SEGARA


Index By

google scholar google scholar google scholargoogle scholargoogle scholargoogle scholargoogle scholar

View My Stats