DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KONDISI PADANG LAMUN DI PERAIRAN TIMUR PULAU BINTAN KEPULAUAN RIAU

Indarto Happy Supriyadi, Ricky Rositasari, Marindah Yulia Iswari

Abstract


Padang lamun memiliki peran penting sebagai sumber utama produktivitas primer atau penghasil bahan organik, habitat untuk berbagai biota, tempat asuhan, tempat memijah, sumber makanan bagi biota langka dan penyokong keanekaragaman jenis-jenis biota laut serta bernilai ekonomis dari jasa ekosistem lamun. Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang terus meningkat telah mengakibatkan kerusakan padang lamun di perairan timur pulau Bintan. Saat ini kajian terbaru terkait dengan kondisi lamun belum tersedia. Kajian ini dilakukan pada Mei dan September (2015-2016) dengan tujuan untuk mengetahui dampak perubahan tutupan lahan terhadap kondisi lamun di perairan timur pulau Bintan. Kondisi lamun ditentukan berdasarkan persentase tutupan lamun. Analisis perubahan penggunaan lahan menggunakan perangkat lunak ENVI 5.1 dan ArcGIS 10.1. Pengukuran debit sungai dan penanganan sampel air dilakukan di lapangan dan laboratorium P2O-LIPI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbuka, perkebunan dan semak belukar pada DAS Kawal telah memberikan dampak menurunnya kondisi lamun khususnya di sekitar muara Sungai Kawal. Secara umum kondisi lamun di perairan timur Pulau Bintan menurun ditunjukkan dengan persentase tutupan lamun yaitu 46 % (2006) dan 41 % (2015). Dalam penelitian ini ditemukan tujuh spesies lamun, antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halodule uninervis dan Syringodium isoetifolium.


Keywords


Perubahan lingkungan, keanekaragaman, kondisi lamun.

Full Text:

PDF

References


Adriman, A., Purbayanto, A., Budiharso, S. & Damar, A. (2013). Pengaruh sedimentasi terhadap terumbu karang di Kawasan Konservasi Laut Daerah Bintan Timur Kepulauan Riau. Berkala Perikanan Terubuk, 41(1): 90-101.

Asyiawati, Y. (2010). Pengaruh Pemanfaatan Lahan Terhadap Ekosistem Pesisir di Kawasan Teluk Ambon. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 10 (2): 1-5

Baja, S. (2012). Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah Pendekatan Spasial & Aplikasinya. Penerbit Andi. Yogyakarta. 378 hal. ISBN : 9780792931921.

Dirhamsyah. (2007). An economic valuation of seagrass ecosystems in East Bintan, Riau Archipelago, Indonesia. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, (33): 257-270.

Duarte, C.M. (2002). The future of seagrass meadows. Environ. Conserv., (29): 192-206.

Engeman, R.M., Dugnesnel, J.A., Cowan, E.M., Smith, H.T., Shwiff, S.A. & Karlin, M. (2008). Assessing Boat damage to Seagrass Bed habitat in a Florida Park Fram a Bioeconomic prospective. Jurnal of Coastal Research, 24(2): 527-532.

Fortes, M.D. (1990). Seagrass: A Resources unknown in the ASEAN region. United State Coastal Resources Management Project. Education Series No. 646 p.

Gray, C.A., McElligoot, D. J. & Chick, R. C. (1996). Intra and inter estuary differences in a assemblages of fish associated with shallow seagrass and bare sand. Marine Freshwater Res., (47): 723-735.

Hartog, D. (1970). The seagrass of the world. North Holand Publishing Company. Amsterdam, London, 271 pp.

Indayani, A.B. (2016). Pemetaan Habitat Dasar Perairan Dangkal Menggunakan Citra Spot-5 Di Pesisir Bintan Timur Kepulauan Riau. Skripsi Sarjana, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan,Institut Pertanian Bogor, Indonesia. 46 hal.

Kementrian Negara-Lingkungan Hidup (KMN-LH). (2004). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun, 16 hal.

Kuo, J. (2007). A New Monoecious seagrass Halophila sulawesii (Hydrocharitaceae) from Indonesia, Aquatic Botany. (in press). Available online at:www.cmca.uwa.edu.au/staff_pages/johnk-23k.

Kuriandewa, T. & Supriyadi, I.H. (2006). Seagrass mapping in East Bintan coastal area Riau archipelago Indonesia. Coastal Marine Science, 30 (1), 154-161.

McKenzie, L.J. (2003). Draft guideline for the rapid assessment of seagrass habitat in the western Pasific (QFS, NFC, Cairns). Marine Plant Ecology Group, QDPI, Northern Fisheries Centre, Cairn: 43 pp.

Mukhaiyar, R. (2010) Klasifikasi Penggunaan Lahan Dari Data Remote Sensing. Journal Teknologi Informasi dan Pendidikan, 2(1) : ISSN : 2086-4981.

Pham, M.T., Nguyen, H.D., Nguyen, X.H. & Nguyen, T.L. (2006). Study on the variation of seagrass population in coastal waters of Khanh Hoa Province, Vietnam. Coastal Marine science, 30 (1):167-173.

Philips, R.C. & Menez, E.G. (1988). Seagrass. Smithsonian Institution Press. Washington D.C. 104 p.

Pioneer, I.R., Walker, D.I., & Coles, R.G. (1989). Regional studier seagrass of tropical Australia. Biology of Seagrass: a treatise on the Biology of seagrass with special reference to the Australian region. A.W.D. Larkum, A.J.McComb & S.A. Shepard (Eds.). Elsevier Amsterdam, 279-303 pp.

Rahmawati, S., Irawan, A., Supriyadi, I.H. & Azkab, M.H. (2014). Panduan pemantauan padang lamun. Malikusworo Hutomo dan Anugerah Nontji (editor). CRITC, COREMAP-LIPI. Jakarta, 37 halaman.

Short, F.T. & Wyllie-Echeverria, S. (1996). Natural and human-induced distribution of segrass. Environ Conrsev., (23):17-27.

Simamora, A.P. (2010). Look to sea as potensial carbon sink. http://Batavia.co.id/node/100393.Govt.

Supriyadi, I.H., Tarigan, S., Rositasari, R., Nurhayati, Muchtar, M., Kiswara, W., Iswari, M.Y. & Purwandana, E. (2015). Kajian dampak dan adaptasi gejala perubahan iklim global: Studi kasus Pulau Bintan Timur-Kepulauan Riau. Laporan Akhir. Coremap-CTI III, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI. 55 hal (unpublished).

Texas Park & Wildlife. (1999). Seagrass conservation plan for Texas. Resources Protection Division. Austin TX. 79 pp.

Thangaradjon, T., Sridhar, R., Senthilkumar, S. & Kananu, S. (2007). Seagrass resources assessment in the Mandapam coast of the Gulf of Mannar Biosphere reserve, India. Applied ecology and environmental research. 6(1): 139-146. Available at: http://www.ecology.uni-corvinus.hu.

Thomlinson, P.B. (1974). Vegetation morphology and meristem dependence as the foundation of productivity in seagrass. Aquaculture, (4),107-130.

Wawo, M., Adrianto, L., Bengen, D.G. & Wardianto, Y. (2014). Valuation of seagrass ecosystem services in Kotania Bay Marine Natural Tourism Park, West Seram, Indonesia. Asian Journal of Scientific Research. &:591-600. DOI: 10.3923/ajsr.2014.591.600. URL:http://scialert.net/abstract/?doi:ajsr.2014.591.600.




DOI: http://dx.doi.org/10.15578/segara.v14i1.6630

Copyright (c) 2018 JURNAL SEGARA


Index By

google scholar google scholar google scholargoogle scholargoogle scholargoogle scholargoogle scholar

View My Stats